BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa usia sekolah
dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun
hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama
siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual
dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi,
kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan
fisik anak. Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai
pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas.
Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan
dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya
terjadi di sekolah. Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar
merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi
diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam
perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka
dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas
empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan
ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak
remaja permulaan.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
saja karakteristik siswa Sekolah Dasar?
2.
Bagaimana
proses pembelajaran Ipa saat ini?
3.
Apa
saja teori belajarnya?
C. Manfaat
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui apa saja karakteristik siswa Sekolah Dasar?
2.
Untuk
mengetahui bagaimana proses pembelajaran Ipa saat ini?
3.
Untuk
mengetahui apa saja teori belajarnya?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik
Siswa Sekolah Dasar
Masa
usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia
enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun.
Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan
perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya,
perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan
kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut
Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai
memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada
tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat,
di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah. Sedang
menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang
berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak
sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang
lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non
sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja
sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah
laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.
Menurut
Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu :
kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman
logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social
transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan
sendiri (self-regulation ) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar
tertarik terhadap pencapaian hasil belajar. Mereka mengembangkan rasa percaya
dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun
anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan
kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan
dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga
menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan
perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : tahap sensorik motor usia
0-2 tahun, tahap operasional usia 2-6
tahun, tahap opersional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun, tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun
ke atas.
Berdasarkan
uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit,
pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada
fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih
terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi. Bertitik
tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal
ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam
proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau
hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah
dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat
dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada
dunia pengetahuan.
Seperti
dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang
mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun
pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing
aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat
pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan
adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam
usia yang sama.
Dengan
karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk
dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada
siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar
kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak
abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi
kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual
maupun dalam kelompok
Karakteristiknya
antara lain:
1.Senang
bermain,
Maksudnya
dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan menghabiskan
waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu hanya
bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak tidak
boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahui karakter
anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai dan
mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermain sambil
belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematikadll.) dengan
diselingi pelajaran yang ringan(keterampilan, olahraga dll.)
2.Senang
bergerak,
Anak
senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak menjadi
hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek mereka tidak
mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduk tenang paling
lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru hendaknya merancang
model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Mungkin
dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya.
3.Senang
bekerja dalam kelompok
Anak
senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia, anak-anak juga
mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi dengan orang lain
terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelompok tertentu
untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan-aturan
kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan,
belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara
sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan demokrasi. Hal
ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar menetapkan metode
atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran seperti yang telah
disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil, misalnya 3-4 anak
agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan
sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu
kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama,
disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat
orang lain juga.
4.Senang
merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.
Ditinjau
dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret.
Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep
baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materi atau
pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar mereka
bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini, siswa
membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, pera
jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guru hendaknya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam
proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata
angina, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung
setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui
secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
5.Anak
cengeng
Pada
umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin diperhatikan
dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus selalu
dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode pembelajaran
tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan mengarahkan
anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
6.Anak
sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
Pada
pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan guru,
disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya dengan cara metode ekperimen agar anak dapat
memahami pelajaran yang diberikan dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran
yang diberikan sedangkan dengan ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan
membuat anak malah tidak pmemahami isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.
7.Senang
diperhatikan
Di
dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari perhatian teman atau gurunya
mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara dilakukan
agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan perasaan anak
tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang ingin
diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain beserta
guru memperhatikannya.
8.Senang
meniru
Dalam
kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat dan dia
temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang yang
ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh acara
televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack down
yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang melakukan
gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya terluka.
Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton
sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu mengawasi
anaknya saat dirumah.
B. Proses
Pembelajaran IPA
Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) dapat dipandang sebagai produk dan sebagai proses.
Secara definisi, IPA sebagai produk adalah hasil temuan-temuan para ahli
saintis, berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori-teori. Sedangkan IPA sebagai
proses adalah strategi atau cara yang dilakukan para ahli saintis dalam
menemukan berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya temuan-temuan tentang
kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa alam. IPA sebagai produk tidak dapat
dipisahkan dari hakekatnya IPA sebagai proses.
Siswa
SD yang secara umum berusia 6-12 tahun, secara perkembangan kognitif termasuk
dalam tahapan perkembangan operasional konkrit. Tahapan ini ditandai dengan
cara berpikir yang cenderung konkrit/nyata. Siswa mulai mampu berpikir logis
yang elementer, misalnya mengelompokkan, merangkaikan sederetan objek, dan
menghubungkan satu dengan yang lain. Konsep reversibilitas mulai berkembang.
Pada mulanya bilangan, kemudian panjang, luas, dan volume. Siswa masih berpikir
tahap demi tahap tetapi belum dihubungkan satu dengan yang lain.
Uraian
di atas menunjukkan bahwa dalam pembelajaran IPA di SD yang perlu diajarkan
adalah produk dan proses IPA karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Guru yang
berperan sebagai fasilitator siswa dalam belajar produk dan proses IPA harus
dapat mengemas pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Ada
beberapa prinsip pembelajaran IPA untuk SD yang harus diperhatikan oleh guru.
Prinsip tersebut antara lain:
1.
Pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita di mulai melalui pengalaman baik
secara inderawi maupun non inderawi.
2.
Pengetahuan yang diperoleh tidak pernah terlihat secara langsung, karena itu
perlu diungkap selama proses pembelajaran. Pengetahuan siswa yang diperoleh
dari pengalaman itu perlu diungkap di setiap awal pembelajaran.
3.
Pengetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten dengan
pengetahuan para ilmuwan, pengetahuan yang Anda miliki. Pengetahuan yang
demikian Anda sebut miskonsepsi. Anda perlu merancang kegiatan yang dapat
membetulkan miskonsepsi ini selama pembelajaran.
4.
Setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang, dan relasi dengan
konsep yang lain. Tugas sebagai guru IPA adalah mengajak siswa untuk
mengelompokkan pengetahuan yang sedang dipelajari itu ke dalam fakta, data,
konsep, simbol, dan hubungan dengan konsep yang lain.
5.
IPA terdiri atas produk dan proses. Guru perlu mengenalkan kedua aspek ini
walaupun hingga kini masih banyak guru yang lebih senang menekankan pada produk
IPA saja. Perlu diingat bahwa perkembangan IPA sangat pesat. Guru yang akan
mengembangkan IPA sebagai proses, maka akan memasuki bidang yang disebut
prosedur ilmiah. Guru perlu mengenalkan cara-cara mengumpulkan data, cara
menyajikan data, cara mengolah data, serta cara-cara menarik kesimpulan
Proses
belajar dan mengajar merupakan suatu langkah untuk membimbing siswa dalam
menguasai suatu konsep dan sub konsepnya. Siswa dibimbing melalui metode
mengajar dan media pembelajaran sehingga dapat menguasai konsep suatu pokok
bahasan. Ketercapaian konsep merupakan konsep-konsep dalam Standar Isi KTSP
yang secara minimal harus dikuasai oleh siswa
Proses
IPA di dalamnya terkandung cara kerja dan cara berpikir. Sikap yang
dikembangkan dalam pembelajaran IPA adalah sikap ilmiah yang antara lain
terdiri atas obyektif, berhati terbuka, tidak mencampur adukkan fakta dan
pendapat, bersifat hati-hati dan ingin tahu. Proses pembelajaran IPA harus
mengacu pada hakikat IPA baik IPA sebagai produk, proses, dan pengembangan
sikap. Di samping itu, menurut permen 22 tahun 2005 menyatakan bahwa pendidikan
IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan
pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
C. Teori
Belajar
Teori
belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana seseorang belajar sehingga
membantu kita memahami proses
pembelajaran.
Ada
tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar,
yaitu: teori belajar behaviorisme, teori
belajar kognitivisme, dan teori belajar
konstruktivisme.
1. Teori
belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah
teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik
pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran
ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
2.
Teori Belajar kognitivisme
Teori kognitif adalah sebuah
teori tentang perilaku yang menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Model
kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi
dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan
hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model
ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan
teori kognitif ini adalah Ausubel,
Bruner, dan Gagne.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi
berarti bersifat membangun. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata
susunan hidup yang berbudaya modern. Pandangan konstruktivisme belajar sebagai
sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau
konsep
Konstruktivisme merupakan
landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep,
atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme
siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat
keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina
pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu mengapliklasikannya dalam
semua situasi. Selain itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka
akan ingat lebih lama semua konsep.
Teori belajar dalam pembelajaran IPA di SD
tersebut.
1.
Teori Belajar Piaget
Teori
Peaget mempunyai nama lengkap Jean Piaget, lahir di Swiss tepatnya di Neuchatel
pada tahun 1896. Perkembangan mental atau kognitif anak terdiri dari beberapa
tahapan. Ada empat tahapan perkembangan mental anak secara berurutan.
Menurut Piaget, ada sedikitnya tiga hal yang
perlu diperhatikan oleh guru dalam merancang pembelajaran di kelas, terutama
dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal tersebut adalah :
1)
Seluruh anak melewati tahapan yang sama secara berurutan ;
2) Anak
mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian
3)
Apabila hanya kegiatan fisik yang diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk
menjamin perkembangan intelektual anak.
2.
Teori Belajar Bruner
Bruner
merupakan salah seorang ahli psikolog perkembangan dan ahli belajar kognitif.
Beliau beranggapan bahwa belaar merupakan kegiatan perolehan informasi.
Kegiatan pengolahan informasi tersebut meliputi pembentukan kategori-kategori.
Di antara kategori-kategori tersebut ada kemungkinan saling berhubungan yang
disebut sebagai koding. Teori belajat
Bruner ini disebut sebagai teori belajar penemuan.
Dalam
penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas, Bruner mengembangkan model
pembelajaran penemuan. Model ini pada prinsipnya memberikan kesempatan kepada
siswa untuk memperoleh informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya
menggunakan barang yang nyata. Peranan guru dalam pembelajaran ini bukanlah
sebagai seorang pemberi informasi melainkan seorang penuntun untuk mendapatkan
informasi.
2. Teori Belajar Gagne
Model
ini menunjukkan aliran informasi dari input ke output. Rangsangan/stimulus dari
lingkungan (environtment)
mempengaruhi alat-alat indera yaitu (receptor),
dan masuk ke dalam sistem syaraf melalui register penginderaan (sensory register). Disini informasi
diberi kode, artinya informasi diberi suatu bentuk yang mewakili
informasiaslinya dan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bagian-bagian
ini dimasukkan dalam memori jangka pendek (short
term memory) dalam waktu singkat, sekitar beberapa detik saja. Tetapi,
informasi dapat diolah oleh internal rehearsal dan disimpan dalam memori jangka
pendek untuk waktu yang lebih lama, namun rehearsal
juga mampu mentransformasikan informasi itu sekali lagi ke dalam memori
jangka panjang (long term memory).
3. Teori Belajar Ausebel
Ausubel
adalah seorang ahli psikologi kognitif. Inti dari teori belajarnya adalah
belajar bermakna. Bagi Ausubel belajar bermakna merupakan suatu proses
dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat pada
struktur kognitif seseorang. Peristiwa psikologi belajar bermakna menyangkut
asimilasi informasi baru ke dalam pengetahuan yang telah ada dalam struktur
kognitif seseorang. Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut Ausubel, belajar
bermakna akan terjadi apabila informasi baru dapat dikaitkan dengan
konsep-konsep yang sudah terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Faktor
yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui
oleh siswa. Informasi yang baru diterima akan disimpan di daerah tertentu dalam
otak. Banyak sel otak tang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan tersebut. David
P. Ausubel menyebutkan bahwa pengajaran secara verbal adalah lebih efisien dari
segi waktu yang diperlukan untuk menyajikan pelajaran dan menyajikan bahwa
pembelajar dapat mempelajari materi pelajaran dalam jumlah yang lebih banyak.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dengan
apa saja yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat
mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa
dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan
siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan
lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk
pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun
dalam kelompok. Proses
IPA di dalamnya terkandung cara kerja dan cara berpikir. Sikap yang
dikembangkan dalam pembelajaran IPA adalah sikap ilmiah yang antara lain
terdiri atas obyektif, berhati terbuka, tidak mencampur adukkan fakta dan
pendapat, bersifat hati-hati dan ingin tahu. Faktor yang paling penting yang
mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui oleh siswa. Informasi yang
baru diterima akan disimpan di daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak tang
terlibat dalam penyimpanan pengetahuan tersebut.
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari
kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam
menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak
yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA

Post A Comment:
0 comments: